APAMSI

Wednesday
Sep 18th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Berita Domestik Mari menjual setrum ke PLN

Mari menjual setrum ke PLN

E-mail Print PDF
| Antyo /Beritagar.id

Ada dua jenis solar bagi Ignasius Jonan, menteri energi dan sumber daya mineral (ESDM). Pertama, solar sebagai bahan bakar minyak (BBM). Kedua, solar sebagai Matahari sumber energi listrik.

Untuk pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) — solar power plant — di atap rumahnya, Jonan telah membuktikan manfaat. Bisa berhemat. Tagihan listrik di rumah dinas maupun pribadi bisa cuma seperlima dari biasanya.

Juli tahun lalu Jonan mengungkapkan pengalamannya. Untuk daya 15,4 Kilowatt peak (kWp) ia cukup membayar sekitar Rp1 juta, tak sampai Rp4 juta - 5 juta ke Perusahaan Listrik Negara (PLN). Selisih itu ia sebut "fantastis" (h/t Liputan6.com).

Bisa begitu karena Jonan melakukan ekspor-impor (istilah resmi untuk jual-beli) setrum dengan PLN. Dia memasang PLTS, lantas kelebihan setrum yang tak terpakai ia jual ke PLN. Ketika rumahnya butuh setrum, giliran Jonan yang membeli dari PLN.

Lantas November 2018 Jonan meneken peraturan menteri ihwal jual-beli setrum PLTS dan PLN. Nama lengkapnya: Peraturan Menteri ESDM No. 49 Tahun 2018 tentang Penggunaan Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap oleh Konsumen PT Perusahaan Listrik Negara.

Permen itu berlaku mulai 1 Januari 2019. Namun ketika permen masih menjadi draf, tiga bulan sebelum terbit, muncul kritik bahwa skema jual-beli setrum itu tidak kompetitif. Bagi Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa, harga yang dijual oleh konsumen lebih rendah ketimbang setrum yang konsumen beli dari PLN (h/t CNN Indonesia).

Lalu suatu pagi pada bulan terbitnya permen, Jonan mendapat kritik dari konsumen. Ia menirukan, "Pak kenapa kalau kita punya PLTS di atap jualanya ke PLN dihitung hanya 65% dari tarif yang dijual ke saya. PLN tuh kalau jual bukan subsidi Rp 1.467 per kwh, nah kalau kita jual ke PLN kira-kira Rp 1.000 per kwh." (h/t detikcom)

Menurut Jonan, konsumen PLN pemilik PLTS hanya menyediakan PLTS saja, sementara penyalurannya menggunakan jaringan distribusi dan gardu milik PLN. Perhitungan biaya elektrifikasi itu dua pertiga untuk pembangkit, sepertiga untuk jaringannya. "Jadi saya bilang ini fair," ia menyimpulkan.

Tentang biaya PLTS atap, Oktober tahun lalu Fabby Tumiwa mengatakan kepada Kompas.com, untuk memasang rooftop panel di rumah diperlukan biaya sekitar Rp18 juta untuk kapasitas 1 kWp.

Adapun perhitungan pemasangan PLTS 5.500 VA, menurut blog seputar tenaga surya PV in Asia, mulai Rp245 juta dengan cadangan daya selama maksimal empat jam setiap hari. Untuk mengetahui perusahaan penyedia PLTS bereputasi, blog tersebut menyodorkan 33 perusahaan contoh.

 

Sumber: beritagar.id

 

Place Your Ads Here

Pasang iklan anda disini?
Bila anda menjual produk-produk modul surya silahkan pasang iklan Anda di tempat kami.

Solar & Enery Storage Indonesia

Hot topic

 

Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terbesar di RI

Len telah membangun IPP PLTS Kupang 5 MWp sebagai proyek Independent Power Producer PLTS ...

 

Pesawat Tenaga Surya Bisa Terbang Malam Hari?

Sebaliknya, proyek ini dirancang untuk menguji dan mempromosikan teknologi baru yang hemat...

 

Singapura Kembangkan Industri Energi Tenaga Surya

Para pelaku industri dan teknologi akan berbagi informasi. Para delegasi juga akan mendap...

 

Listrik Masih Ditunggu

  BATAM, KOMPAS - Saat PT PLN menggelar program Gerakan Sejuta Sambungan se-Indonesia p...

 

400 Pulau Belum Teraliri Listrik

AMBON, KOMPAS - Sebanyak 400 dari 440 pulau berpenghuni di Provinsi Maluku dan Maluku U...