APAMSI

Friday
Aug 23rd
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home

Pandangan APAMSI terhadap pembangunan Industri Peralatan PLTS khususnya panel surya fotovoltaik berbasis teknologi silikon kristalin

E-mail Print PDF

Latar belakang
Mewujudkan kedaulatan energi bangsa Indonesia yang berbasis pada penggunaan energi terbarukan adalah :

  • sebuah kebutuhan mendesak,
  • Sebuah keniscayaan,
  • Sebuah kepentingan nasional.


Tidak ada pilihan lain krn energi fosil akan segera habis.

Para Ahli dgn berbagai perhitungan meyakini diversifikasi pemanfaatan potensi aneka energi terbarukan Indonesia yang berlimpah sangat cukup untuk menyediakan energi bagi rakyat Indonesia.

Sbg sektor yang sangat strategis energi perlu dikembangkan secara serius, konsisten, jelas, terintegrasi, terarah & berorientasi pada target pendek, menengah, panjang.

Kedaulatan energi berbeda dengan ketahanan energi.

Energi yang berdaulat menitikberatkan kemampuan menyediakan energi berdasar pada kemampuan sendiri (berdikari) tanpa didikte / tergantung kepada asing.

Sedangkan ketahanan energi adalah kemampuan menyediakan energi pada tingkat harga terjangkau sewaktu-waktu tanpa menghiraukan asal energi.

Apamsi berpendapat bahwa pengembangan energi terbarukan harus berbasis pada kemampuan industri dalam negeri untuk menyediakan peralatan pembangkitan yang dibutuhkan. Sdgkan pengembangan industri sgt bergantung pada demand.
Melalui RIPIN roadmap energi surya telah dibuat namun belum terlaksana di tataran implementasi.

Apamsi berpandangan bahwa industri fotovoltaik di Indonesia sangat penting dikembangkan dlm mewujudkan kedaulatan energi.

Industri fotovoltaik terdiri atas 4 tier hulu-hilir yaitu: industri silika ingot, industri wafer, industri sel surya dan industri panel surya. Saat ini indsrtri DN hanya ada industri panel surya. Hulunya kosong. Sbg perbandingan, industri PV tiongkok sdh lengkap.

Total kapasitas PLTS terpasang RI sd 2018 adlh 100 MW. RI berkomitmen memasang 6,5 GW sd 2025 melalui paris agreement.

Pasar fotovoltaik dlm negeri masih sangat rendah. Berkisar 10-20 MW/tahun. Didominasi proyek pemerintah. Kapasitas produksi apamsi 450 MW / thn. Harga panel surya DN msh lbh tinggi dibanding made in china

Syarat membangun industri fotovoltaik DN:

  1. Market size minimal 1 GW/ tahun
  2. Ketersediaan 4 tier industri PV scr bertahap
  3. Ketersediaan bahan baku berlimpah(cukup)
  4. Perlindungan di masa inkubasi
  5. Membangun infrastruktur kualitas


Dilihat dari potensi PLTS RI sebesar 205 GW maka sebenarnya masih sangat besar. Belum lagi potensi ekspor.

Kendala pengembangan industri PV dlm negeri:

  1. Pasar terlalu kecil. Skala ekonomi tidak masuk
  2. Blm ada fasilitas fiskal bagi calon investor industri
  3. Blm ada investor yg melirik
  4. Silo-silo ego sektoral Pemerintah shg rencana kerja tdk terintegrasi antar sektor


Banyak kebijakan yang telah dibuat namun belum kongkrit, membumi & terealisir. Masih ditemukan banyak penyimpangan di lapangan.

Rekomendasi APAMSI:

  1. Rencana aksi terintegrasi lintas sektoral
  2. Aksi afirmatif yg lebih tegas dlm penggunaan produk dlm negeri sembari dilakukan monev & pengawasan lbh ketat
  3. Insentif fiskal
  4. Iklim investasi yg lbh seksi
  5. Perlindungan produk DN di masa inkubasi
  6. Menugaskan BUMN utk membangun industri hulu
  7. Menciptakan skema bisnis yg feasible & bankable bagi aplikator PLTS (IPP, PVRooftop, own used, charging station, dll)
  8. Scr paralel membangun kemandirian industri Electric Vehicle berbasis energi listrik terbarukan




Demikian semoga bermanfaat.

Jakarta, 6 Februari 2019
Ketua Umum APAMSI
Nick Nurrachman

Last Updated ( Friday, 08 February 2019 09:40 )